RSS

PEDOMAN IBADAH SHAUM

PEDOMAN IBADAH SHAUM

 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ # أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ البقرة : 183-184

Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kamu shaum, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. Beberapa hari yang ditentukan, maka siapa yang sakit atau berpergian di antara kamu, maka hendaklah ia menghitung (qadla) pada hari-hari lainnya dan atas orang yang merasa payah boleh membayar fidyah dengan memberi makanan pada orang yang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari, maka itulah yang lebih baik baginya.Q.s. al-Baqarah : 183-184

إِمْسَاكٌ مَخْصُوصٌ فِي زَمَنٍ مَخْصُوصٍ عَنْ شَيْئٍ مَخْصُوْصٍ بِشَرَائِطَ مَخْصُوصَةٍ

Menahan diri secara khusus, pada waktu yang khusus, dari sesuatu yang khusus, dan dengan syarat-syarat yang
khusus. Fathul Bari V:3

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ. -الجماعة الا مسلما والنسائي-

Dari Abi Hurairah, Rasulullah saw. berdabda;”Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan kotor, maka bagi Allah tidakpunya keperluan dari hanya sekadar meninggalkan makan dan minum”. H.r. Al-Jamaah kecuali Muslim dan An-Nasai

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 Mei 2011 in Shaum

 

Mengelola Kenikmatan

Mengelola Kenikmatan
Oleh Ibnu Muchtar
 

Sebagaimana telah kita maklumi bahwa sejak manusia diciptakan beragam kenikmatan telah dilimpahkan Allah kepada manusia. Seandainya kita mencoba untuk menghitung jumlah kenikmatan itu, tentu saja tidak mungkin terhitung berapa banyaknya sekalipun menggunakan mesin hitung yang paling canggih. Dengan demikian, yang perlu kita lakukan bukan menghitung jumlahnya namun reaktualisasi kenikmatan tersebut, yakni penyegaran dan pembaruan nilai-nilai kenikmatan itu dalam kehidupan kita, agar kita mampu memposisikan diri sebagai ‘abdan syakura (hamba Allah yang pandai bersyukur).

Apa yang dimaksud dengan kata ni’mat?

Secara bahasa, menurut ar-Raghib al-Ashfahanidalam al-Mufradat fi Gharibil Quran, I:499, Ni’mat artinya al-haalah al-hasanah (keadaanyang menyenangkan). Sedangkan menurut Ayyub bin Musa: “Ni’mat adalah keadaan yang  dirasa menyenangkan oleh manusia” Kitab al-Kuliyyat, I:912

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 Mei 2011 in Uncategorized

 

Fiqh Riba

Fiqh Riba
Oleh : Ibnu Muchtar  

Riba Dalam Alquran

Kata riba dalam Alquran ditemukan sebanyak tujuh kali, yaitu pada surah Al-Baqarah ayat 275, 276, 278, dan 279, surah Ali Imran ayat 130, surah An-Nisa ayat 161, surah Ar-Rum ayat 39. Perlu diketahui bahwa larangan riba dalam Alquran tidak turun sekaligus, melainkan secara bertahap, yakni dalam empat tahap;

Tahap Pertama ar-Rum ayat 39

Ayat ini turun di Mekah, tidak mengharamkan secara jelas, hanya berupa penolakan terhadap anggapan bahwa pinjaman riba yang pada zahirnya seolah-olah menolong mereka yang memerlukan sebagai perbuatan taqarrub kepada Allah.

Tahap kedua an-Nisaa’ ayat 160-161

Ayat ini turun di Madinah sebelum tahun ke-3 hijriah. Ayat ini pun belum secara tegas mengharamkan riba, namun memberikan gambaran yang buruk sebagai ancaman yang keras terhadap orang Yahudi yang memakan riba.

Tahap ketiga Ali Imran ayat 130

Ayat ini turun di Madinah pada tahun ke-3 hijriah, untuk memberikan gambaran bahwa pengambilan riba dengan tingkat yang cukup tinggi merupakan fenomena yang banyak dipraktikan pada masa tersebut.

Tahap Akhir al-Baqarah ayat 278-279

Ayat ini turun di Madinah  pada tahun ke-9. Ayat ini dengan jelas dan tegas mengharamkan riba dalam jenis apapun.

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 Mei 2011 in Uncategorized

 

Menjalankan Keputusan Muktamar

Oleh: Amin Muchtar

Muktamar Persatuan Islam (Persis) XIII di Jakarta telah menghasilkan keputusan-keputusan penting yang menentukan perjalanan jam’iyyah (organisasi) selama lima tahun. Telah dipilih K.H. Drs. Shiddiq Amien, M.B.A., allahuyarhamuh, sebagai imam (ketua umum) masa jihad 2005-2010 dan anggota tasykil pim-pinan yang telah dibentuk. Ke-putusan lainnya tentang program jihad, perubahan Qanun Asasi (QA) dan Qanun Dakhili (QD), dan rekomendasi yang bersifat internal, nasional, dan internasional.

 Kini muktamar Persis itu kembali digelar. Siapa pun yang nantinya terpilih menjadi imam untuk masa jihad 2010-2015, pada hakikatnya telah mendapatkan perintah dari Allah SWT sebagaimana termaktub dalam Alquran, “Apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” (Q.S. Al-Insyirah: 7-8).

Artinya, seluruh anggota pim-pinan yang diberi amanat oleh muktamar dan para muktamirin yang mewakili segenap pimpinan serta anggota Persis se-Indonesia dituntut untuk menjalankan keputusan muktamar tersebut sebagaimana layaknya amanat yang harus ditunaikan. Dengan demikian, keputusan muktamar yang nanti dihasilkan menjadi tanggung jawab bagi segenap pimpinan dan umat Persis untuk melaksanakan atau menjalankannya.
Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 April 2011 in Uncategorized

 

Keistimewaan Bulan Muharram

Oleh : Ibnu Muchtar

Didalam surat at-Taubah:36 Allah telah menetapkan bahwa dari 12 bulan dalam kalender qamariah ada 4 bulan yang ditetapkan oleh Allah sebagai bulan terhormat. Hal itu dipertegas dan diperjelas oleh Rasululullah dalam hadis riwayat Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad, salah satu di antaranya bulan Muharram.
Kehormatan ke-4 bulan ini diakui bahkan dijaga oleh orang Arab pada masa jahiliyyah, hingga mereka tidak mau membalas, bahkan membunuh orang yang membunuh orang tua mereka ketika bertemu pada bulan-bulan itu. Penghormatan bagi ke-4 bulan ini menunjukkan adanya sesuatu yang istimewa. Salah satu di antara keistimewaan bulan muharram sebagaimana diterangkan dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim bahwa pada bulan Muharam tepatnya hari ke-10 Allah Swt. menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari kejaran raja Fir’aun dan tentaranya.
Peristiwa ini diperingati oleh kaum Yahudi dengan melaksanakan shaum pada tiap tanggal 10 muharram yang disebut shaum asyura, bahkan mereka menjadikan hari asyura sebagai hari raya. Hal ini diterangkan oleh sahabat Abu Musa al-Asy’ari :
Hari Asyura itu adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan mereka menjadikannya hari raya.
Shaum ini pun biasa dilaksanakan oleh kaum Nashrani dan musyrikin Quresy pada masa jahiliyah dengan alasan masing-masing.
Dengan keterangan-keterangan tersebut jelaslah, bahwa bulan muharam dianggap istimewa oleh Kaum Jahiliyah Quraesy dan Kaum Yahudi karena adanya sesuatu yang dianggap penting oleh mereka sehingga mereka memperingatinya dengan melaksanakan shaum tiap tanggal 10 muharram yang disebut saum asyura.

Selengkapnya mengenai artikel keutamaan bulan Muharram download [disini]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 September 2010 in Uncategorized

 

Niat… Diucapkan atau Tidak???

Oleh : Ibnu Muchtar

Niat secara bahasa artinya kehendak, rencana dan tujuan atas sesuatu. Dalam istilah para ulama, niat dimaksudkan untuk dua pengertian : Pertama, Niat dalam pengertian kehendak hati yang membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lain, seperti membedakan shalat wajib dzuhur dari shalat wajib Ashar atau yang membedakan shaum Ramadhan dengan shaum Nadzar. Kedua, niyat dalam pengertian sesuatu yang menjadi dasar dorongan dan harapan atau motivasi suatu amal perbuatan. Yaitu apakah sesuatu pekerjaan itu dilaksanakan atas dasar mengharap keridhaan dan pahala Allah SWT atau karena mengharap pujian dari manusia.
Dalam Alquran disebutkan kandungan dari niyat itu, yaitu ”keinginan, harapan, dan kehendak.” Iraadah, ibtighaa, dan rajaa. Seperti dalam Firman Allah :

”Barangsiapa yang menginginkan keuntungan (pahala) akhirat, kami akan tambahkan keuntungannya, dan barang siapa yang menginginkan keuntungan dunia saja, Kami akan berikan sebagian darinya dan baginya tidak ada bagian keuntungan di akhirat sedikit pun”. (Q.S As-Syura : 20)

”Dan perumpamaan orang-orang yang menginfakkan harta mereka dengan mengharap keridhaan Allah…” (Q.S Al-Baqarah : 265)

”Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya hendaklah ia beramal dengan amal saleh dan jangan menyekutukanNya dengan sesuatu apapun dalam beribadah kepadaNya”. (Al-Kahfi : 110)
Dalam Al-Hadits tentang niyat nabi SAW dengan tegas bersabda :

”Dari Umar Ibn Khaththab ’aku mendengar Rasulullah SAW bersabda” Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya dan bagi tiap orang apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrah kepada Allah dan RasulNya , maka pahalanya karena Allah dan rasulNya. Dan barangsiapa yang hijrah karena dunia atau wanita yang dinikahinya, maka pahala hijrahnya itu apa yang di hijrahi”. (H.R Al-Bukhari, Shahih Muslim (3530)

Untuk lebih jelasnya mengenai masalah niat diucapkan atau tidak download artikelnya [disini]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 September 2010 in Uncategorized

 

Wakaf Menurut Syariat Islam

Oleh : Ibnu Muchtar

Wakaf berasal dari kata Arab waqf yang artinya menahan. Menurut istilah, wakaf berarti

حَبْسُ مَالٍ يُمْكِنُ اْلاِنْتِفَاعُ بِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ بِقَطْعِ التَّصَرُّفِ فِيْ رَقَبَتِهِ عَلَى مَصْرَفٍ مُبَاحٍ مَوْجُوْدٍ

“menahan harta yang dapat dimanfaatkan tanpa lenyap bendanya, dengan cara tidak melakukan tindakan hukum terhadap benda tersebut, disalurkan pada sesuatu yang mubah (tidak haram) yang ada,” (al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj, [Beirut: Dar al-Fikr, 1984], juz V, h. 357; al-Khathib al-Syarbaini, Mughni al-Muhtaj, [Beirut: Dar al-Fikr, t.th], juz II, h. 376)
Dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Buku III, Bab I, Pasal 215, (1) dan (4) disebutkan “Wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda miliknya guna kepentingan ibadat atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran Islam” dan “Benda wakaf adalah segala benda, baik bergerak atau tidak bergerak, yang memiliki daya tahan yang tidak hanya sekali pakai dan bernilai menurut ajaran Islam”
Seperti apa wakaf menurut syariat Islam? download artikelnya [disini]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 September 2010 in Zakat

 
 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

%d blogger menyukai ini: